Banyak orang menganggap demensia sebagai bagian alami dari penuaan, padahal tidak selalu demikian. Anda perlu memahami gejala demensia sejak awal agar dapat melakukan tindakan pencegahan atau penanganan yang tepat.
Dengan meningkatnya angka harapan hidup, isu mengenai demensia menjadi semakin relevan terutama untuk keluarga milenial yang mulai mendampingi orang tua memasuki usia lanjut.
Artikel ini akan membantu Anda mengenali gejala demensia secara lebih lengkap, mulai dari tanda-tanda halus yang sering diabaikan hingga perubahan perilaku yang biasanya muncul seiring perkembangan kondisi. Pemahaman yang baik akan memudahkan Anda mengambil langkah tepat untuk menjaga kualitas hidup orang terdekat.

Demensia bukanlah penyakit tunggal, melainkan sekumpulan gejala yang memengaruhi fungsi otak. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh kerusakan sel-sel otak sehingga seseorang kehilangan kemampuan dasar dalam mengingat, berkomunikasi, membuat keputusan, atau mengendalikan emosi.
Karena itu, memahami gejala demensia sejak tahap awal merupakan langkah penting agar Anda tidak keliru menganggapnya sebagai pelupa biasa.
Meskipun demensia lebih sering terjadi pada lansia, bukan berarti usia muda sepenuhnya aman. Orang berusia 40–60 tahun pun berpotensi mengalaminya, terutama jika memiliki faktor risiko seperti gaya hidup tidak sehat, hipertensi, diabetes, riwayat stroke, atau kurang stimulasi mental.
Baca juga: 4 Nutrisi Penting dalam Susu untuk Tulang Lansia, Bantu Cegah Osteoporosis
Semakin cepat gejala demensia dikenali, semakin besar peluang untuk memperlambat progresnya. Deteksi dini bisa membantu dokter menentukan penyebab spesifik, seperti Alzheimer, vaskular, atau demensia frontotemporal.
Ketepatan diagnosis memungkinkan pengelolaan gejala yang lebih efektif, terapi yang sesuai, serta perencanaan perawatan jangka panjang yang lebih baik.
Bagi Anda yang memiliki orang tua lanjut usia atau anggota keluarga dengan faktor risiko, pengetahuan tentang gejala demensia dapat menjadi bekal penting untuk mengambil keputusan medis, gaya hidup, dan perawatan di rumah.

Sebelum kondisi demensia berkembang lebih jauh, ada sejumlah tanda awal yang sebenarnya bisa Anda sadari sejak dini. Banyak orang sering mengabaikannya karena terlihat mirip dengan pelupa biasa, padahal perbedaannya cukup jelas jika Anda memperhatikan lebih dekat.
Berikut adalah tanda-tanda yang paling umum terjadi. Pastikan Anda memperhatikan setiap detailnya agar dapat mendeteksi perubahan sekecil apa pun.
Kesulitan mengingat informasi baru adalah gejala demensia yang paling sering muncul. Penderita biasanya melupakan hal-hal kecil seperti jadwal kegiatan, letak barang, atau percakapan yang baru saja dilakukan.
Jika Anda melihat orang terdekat mengulang pertanyaan yang sama berulang kali, itu bisa menjadi indikator awal.
Penderita demensia kerap kesulitan melakukan kegiatan yang sebelumnya mudah. Misalnya, bingung mengikuti resep sederhana, tidak mampu mengelola pembayaran, atau keliru saat mengoperasikan alat rumah tangga. Perubahan ini perlu Anda perhatikan sebagai bagian dari gejala demensia yang signifikan.
Tidak tahu hari apa, di mana berada, atau bagaimana mencapai suatu tempat yang biasa dikunjungi juga menjadi gejala demensia yang umum. Penderita bisa tiba-tiba terlihat linglung saat berada di lingkungan yang seharusnya familiar.
Kesulitan menemukan kata yang tepat, berhenti di tengah kalimat, atau mengganti kata dengan istilah yang tidak tepat adalah bentuk lain dari gejala demensia. Anda mungkin melihat seseorang tampak frustrasi karena tidak dapat menyampaikan pikirannya.
Penderita bisa kesulitan membaca, menilai jarak, atau mengenali wajah. Jika orang terdekat Anda mulai salah menilai jarak saat berjalan atau sulit memahami gambar, bisa jadi itu bagian dari gejala demensia yang harus diwaspadai.
Seseorang yang biasanya ramah bisa menjadi mudah marah, curiga, atau menarik diri dari lingkungan. Perubahan emosional dan perilaku sering kali menjadi gejala demensia yang menonjol ketika kondisi sudah berkembang lebih jauh.
Penderita demensia cenderung menunjukkan keputusan yang buruk, seperti memberikan uang dalam jumlah besar tanpa alasan jelas atau kurang peduli dengan kebersihan diri. Perubahan ini merupakan gejala demensia yang sering terlihat dalam aktivitas harian.
Jika seseorang mulai berhenti melakukan hobi yang dulu disukai atau tidak bersemangat menjalani rutinitas, kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal gejala demensia. Ketidakpedulian muncul secara perlahan dan sering tidak disadari.
Penderita kerap menaruh barang di tempat yang tidak biasa, misalnya kunci disimpan di dalam kulkas atau remote TV berada di rak pakaian. Anda mungkin melihat pola ini berulang, yang termasuk gejala demensia yang khas.
Orang dengan demensia sering menghindari percakapan karena kesulitan mengikuti alurnya. Mereka dapat terlihat diam, bingung, atau tampak tidak tertarik. Kondisi seperti ini adalah bagian dari gejala demensia yang penting untuk Anda sadari.
Tanda terakhir yang juga sering muncul adalah gerakan yang melambat, tubuh kaku, atau kesulitan melakukan aktivitas fisik sederhana. Penurunan fungsi motorik ini sering kali memperburuk gejala demensia lainnya karena penderita menjadi semakin bergantung pada orang lain.

Mengetahui seseorang menunjukkan gejala demensia memang bisa membuat Anda khawatir, tetapi kabar baiknya adalah ada banyak langkah yang dapat dilakukan untuk mengelola kondisi ini.
Setelah Anda mengenali berbagai gejala demensia, langkah selanjutnya adalah memahami bagaimana cara mengelolanya. Tidak ada obat yang benar-benar menyembuhkan demensia, tetapi ada banyak strategi untuk memperlambat perkembangan dan meningkatkan kualitas hidup.
Deteksi dini sangat penting. Jika Anda melihat salah satu atau beberapa tanda muncul secara konsisten, segera konsultasikan dengan tenaga medis. Pemeriksaan seperti MRI, tes kognitif, atau evaluasi neurologis dapat membantu memastikan diagnosis.
Diet tinggi antioksidan, omega-3, dan serat seperti sayur, buah, kacang-kacangan, dan ikan dipercaya dapat mendukung kesehatan otak.
Stimulasi otak sangat membantu. Anda bisa mengajak orang terdekat bermain puzzle, membaca, atau belajar hal baru.
Olahraga ringan seperti berjalan, senam lansia, atau yoga dapat meningkatkan aliran darah ke otak dan membantu mengurangi progres gejala demensia.
Tentukan tempat khusus untuk menyimpan barang-barang penting. Anda juga dapat membuat jadwal harian yang konsisten agar penderita tidak merasa cemas atau bingung.
Baca juga: 5 Vitamin untuk Lansia Agar Tidak Lemas dan Tetap Energik
Jika gejala demensia muncul secara berulang atau semakin parah dari waktu ke waktu, Anda disarankan segera mendapat bantuan profesional. Penanganan cepat dapat memperlambat perkembangan kondisi dan memberikan ketenangan bagi keluarga.
Tanda-tanda yang perlu diperhatikan antara lain:
Kebingungan yang semakin sering
Perubahan kepribadian drastis
Kesulitan mengurus diri sendiri
Gangguan perilaku yang membahayakan diri atau orang lain
Memahami gejala demensia sejak awal akan membantu Anda memberikan dukungan terbaik bagi orang terdekat yang mungkin mengalami penurunan fungsi kognitif. Dengan mengenali tanda-tandanya lebih dini, Anda dapat mengambil langkah tepat, mulai dari konsultasi medis hingga penyesuaian pola hidup.
Jika Anda membutuhkan bantuan profesional untuk perawatan lansia di rumah, Homecare Lansia siap mendampingi. Kami menyediakan layanan panggil dokter ke rumah, infus nutrisi, infus osteoporosis, hingga suntik pelumas sendi bagi lansia yang memerlukan perhatian khusus.
Untuk layanan yang lebih aman, nyaman, dan terpercaya, segera hubungi Homecare Lansia dan dapatkan bantuan medis yang Anda butuhkan kapan saja.
Tim kami yang terlatih memberikan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi lansia dan keluarga mereka
One thought on “11 Gejala Demensia dan Langkah Tepat Mengantisipasinya”