Menjadi tua adalah proses alami yang akan dialami setiap orang, termasuk Anda dan orang-orang yang Anda cintai. Namun, penuaan juga sering disertai dengan perubahan fungsi otak yang dapat memengaruhi kemampuan berpikir, mengingat, serta berperilaku.
Salah satu kondisi yang sering muncul seiring bertambahnya usia adalah demensia pada lansia. Kondisi ini bukan sekadar lupa biasa, melainkan gangguan serius yang dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari seseorang secara signifikan.
Melalui artikel ini, Anda akan mengenal lebih dalam tentang apa itu demensia pada lansia, jenis-jenisnya, penyebab, gejala, serta bagaimana cara merawat dan menangani lansia dengan kondisi ini.

Demensia pada lansia adalah penurunan fungsi kognitif yang cukup parah hingga mengganggu aktivitas harian. Fungsi kognitif ini mencakup kemampuan berpikir, mengingat, berbahasa, memahami waktu, dan membuat keputusan.
Meskipun demensia sering dikaitkan dengan penuaan, penting untuk diingat bahwa demensia bukanlah bagian normal dari proses menua.
Pada tahap awal, seseorang dengan demensia mungkin hanya mengalami lupa ringan, seperti melupakan janji atau menaruh barang di tempat yang salah.
Namun, seiring waktu, kondisi ini dapat memburuk hingga penderita kehilangan kemampuan untuk merawat diri sendiri atau mengenali anggota keluarganya.
Baca juga: 5 Kiat Jaga Kesehatan Lansia agar Tetap Aktif dan Panjang Umur
Tidak semua gangguan daya ingat pada lansia disebabkan oleh hal yang sama. Faktanya, demensia pada lansia memiliki berbagai jenis dengan penyebab dan gejala yang berbeda-beda.
Ada beberapa jenis demensia pada lansia, dan masing-masing memiliki penyebab serta karakteristik yang berbeda. Berikut beberapa jenis yang paling umum:
Demensia Alzheimer adalah jenis yang paling sering ditemukan, mencakup sekitar 60–80% dari seluruh kasus demensia. Penyebab utamanya adalah kerusakan sel otak akibat penumpukan protein tertentu yang mengganggu komunikasi antar sel saraf.
Demensia Vaskular disebabkan oleh gangguan aliran darah ke otak, misalnya akibat stroke atau tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol. Kondisi ini mengakibatkan kerusakan jaringan otak dan menurunnya kemampuan berpikir.
Demensia Lewy Body ditandai dengan adanya endapan protein abnormal bernama Lewy body di dalam sel otak. Penderitanya sering mengalami gangguan tidur, halusinasi visual, dan perubahan suasana hati yang drastis.
Demensia Frontotemporal adalah jenis yang menyerang bagian depan dan pelipis otak, yang berperan dalam perilaku, kepribadian, dan kemampuan berbahasa. Akibatnya, penderita sering menunjukkan perubahan perilaku atau kehilangan empati.
Mixed Dementia (Demensia Campuran), di mana beberapa lansia mengalami kombinasi dari dua atau lebih jenis demensia sekaligus, seperti Alzheimer dan demensia vaskular, sehingga gejalanya bisa lebih kompleks.

Penyebab utama demensia pada lansia adalah kerusakan pada sel-sel otak. Ketika sel-sel otak mengalami kematian atau tidak lagi dapat berkomunikasi dengan baik, maka fungsi kognitif akan terganggu. Namun, faktor penyebabnya bisa bervariasi, tergantung dari jenis demensia itu sendiri.
Beberapa faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan terjadinya demensia antara lain:
Usia lanjut: risiko meningkat tajam setelah usia 65 tahun.
Riwayat keluarga: jika orang tua atau saudara memiliki demensia, peluang Anda juga lebih besar.
Penyakit kronis: seperti diabetes, hipertensi, atau kolesterol tinggi.
Gaya hidup tidak sehat: pola makan buruk, kurang aktivitas fisik, serta merokok dan konsumsi alkohol berlebih.
Cedera kepala berat: trauma otak dapat meningkatkan risiko demensia di masa depan.
Kurang stimulasi mental: otak yang jarang dilatih dapat mengalami penurunan fungsi lebih cepat.
Tanda-tanda demensia pada lansia sering kali terlihat samar di awal, hingga akhirnya menjadi lebih jelas seiring waktu.
Mengenali gejala sejak dini sangat penting agar demensia pada lansia dapat ditangani lebih cepat. Berikut beberapa tanda umum yang perlu Anda perhatikan:
Penurunan daya ingat yang mengganggu aktivitas harian.
Kebingungan terhadap waktu dan tempat, misalnya sulit menentukan hari atau lupa arah pulang.
Kesulitan berkomunikasi, seperti lupa kata yang ingin diucapkan atau tidak memahami percakapan.
Perubahan suasana hati dan kepribadian, menjadi mudah marah, cemas, atau menarik diri.
Hilangnya kemampuan membuat keputusan atau mengelola keuangan pribadi.
Kesulitan melakukan tugas sederhana, seperti memasak atau mengenakan pakaian.
Menurunnya koordinasi gerak, yang dapat menyebabkan jatuh atau kecelakaan kecil.
Jika Anda mulai melihat tanda-tanda ini pada orang tua atau kerabat dekat, segera konsultasikan ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Merawat seseorang dengan demensia pada lansia membutuhkan kesabaran, empati, dan pemahaman yang mendalam. Tujuan perawatan bukan hanya menjaga kesehatan fisik, tetapi juga membantu menjaga kualitas hidup dan kemandirian lansia selama mungkin.
Beberapa langkah perawatan yang dapat dilakukan antara lain:
Menciptakan lingkungan aman dan nyaman. Pastikan rumah bebas dari benda tajam atau risiko jatuh. Gunakan pencahayaan cukup dan atur barang-barang secara konsisten agar lansia tidak bingung.
Membangun rutinitas harian. Jadwal yang teratur membantu penderita merasa lebih tenang dan mengurangi kebingungan.
Mendorong aktivitas fisik dan sosial. Ajak lansia berjalan ringan, berkebun, atau berbicara dengan keluarga untuk menjaga fungsi otak dan suasana hati.
Memberikan makanan bergizi. Nutrisi seimbang dengan asupan protein, lemak sehat, dan vitamin B dapat membantu menjaga kesehatan otak.
Mendukung stimulasi kognitif. Aktivitas seperti membaca, bermain puzzle, atau mendengarkan musik dapat memperlambat penurunan daya ingat.
Pastikan lansia menjalani pemeriksaan kesehatan secara berkala agar kondisi demensia dapat dipantau dan ditangani dengan tepat.
Saat mendengar diagnosis demensia pada lansia, banyak orang langsung merasa cemas dan tidak tahu harus berbuat apa.
Meski demensia pada lansia belum bisa disembuhkan sepenuhnya, ada beberapa bentuk penanganan medis yang dapat membantu mengendalikan gejala dan memperlambat progresnya, seperti:
Obat-obatan khusus, misalnya donepezil, rivastigmine, atau memantine, yang membantu meningkatkan fungsi memori.
Terapi perilaku dan psikologis, untuk mengelola stres, kecemasan, atau depresi yang sering menyertai demensia.
Perawatan nutrisi dan hidrasi, agar tubuh lansia tetap kuat dan tidak mudah lelah.
Pendampingan profesional, terutama jika kondisi sudah cukup berat dan membutuhkan perhatian medis intensif.
Baca juga: Pneumonia pada Lansia: Gejala, Penyebab, dan Cara Pencegahannya
Meski faktor usia tidak bisa dihindari, Anda tetap memiliki kendali untuk mencegah demensia pada lansia melalui gaya hidup sehat.
Sebagai anggota keluarga, Anda memiliki peran besar dalam mendukung perawatan lansia dengan demensia. Mulailah dengan langkah-langkah sederhana:
Dengarkan dengan sabar setiap kali mereka berbicara, meski ceritanya berulang.
Gunakan kalimat singkat dan lembut agar mereka mudah memahami.
Jangan memaksa mereka mengingat sesuatu yang sulit.
Tunjukkan kasih sayang dan apresiasi kecil setiap hari.
Menghadapi demensia pada lansia bukan hal mudah. Kondisi ini membutuhkan perhatian, kesabaran, serta dukungan medis yang berkelanjutan. Sebagai keluarga, Anda memiliki peran besar dalam menjaga kualitas hidup lansia dengan memberikan kasih sayang, stimulasi mental, serta memastikan kebutuhan medisnya terpenuhi.
Namun, jika Anda merasa kewalahan atau khawatir tidak bisa memberikan perawatan optimal di rumah, Homecare Lansia bisa menjadi solusi yang tepat. Melalui layanan panggil dokter ke rumah, infus nutrisi, dan infus albumin, Homecare Lansia membantu menjaga kesehatan otak, daya tahan tubuh, dan keseimbangan nutrisi lansia tanpa perlu repot pergi ke rumah sakit.
Jaga kenyamanan dan kesehatan orang tua tercinta mulai hari ini bersama Homecare Lansia. Hubungi tim profesional kami sekarang untuk mendapatkan konsultasi dan layanan perawatan terbaik langsung di rumah Anda.
Tim kami yang terlatih memberikan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi lansia dan keluarga mereka
2 thoughts on “Jenis dan Gejala Demensia pada Lansia yang Perlu Diketahui Sejak Dini”