Seiring bertambahnya usia, tubuh manusia mengalami banyak perubahan, termasuk pada sistem kemih. Tidak sedikit lansia dengan gangguan buang air kecil yang mengalami kesulitan dalam mengontrol aliran urin, baik karena melemahnya otot kandung kemih maupun gangguan pada saraf yang mengatur fungsi kemih.
Bagi Anda yang memiliki orang tua atau kerabat lanjut usia, kondisi ini perlu mendapat perhatian khusus karena dapat memengaruhi kualitas hidup mereka secara signifikan.
Artikel ini akan membantu Anda memahami apa yang menyebabkan gangguan buang air kecil pada lansia, bagaimana mengenali gejalanya, serta langkah-langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah dan mengatasinya dengan cara yang aman dan nyaman.

Pernahkah Anda memperhatikan bahwa orang tua atau kerabat lanjut usia mulai lebih sering ke kamar mandi, bahkan di malam hari? Kondisi ini bukan hal yang aneh.
Lansia dengan gangguan buang air kecil sering kali mengalami perubahan fungsi kandung kemih akibat penuaan alami. Secara medis, hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor utama:
Penurunan elastisitas kandung kemih. Seiring usia, dinding kandung kemih menjadi kurang elastis sehingga kapasitasnya menurun. Akibatnya, lansia merasa lebih sering ingin buang air kecil meski jumlah urin yang keluar sedikit.
Otot panggul berperan penting dalam mengontrol keluarnya urin. Pada lansia dengan gangguan buang air kecil, otot ini sering melemah karena proses penuaan, kehamilan pada wanita, atau gaya hidup kurang aktif.
Kondisi seperti diabetes, stroke, atau penyakit Parkinson dapat merusak saraf yang mengatur fungsi kandung kemih. Akibatnya, lansia kesulitan menahan buang air kecil atau bahkan tidak sadar saat urin keluar.
Pada pria lanjut usia, pembesaran prostat adalah salah satu penyebab paling umum dari kesulitan buang air kecil. Hal ini menghambat aliran urin dan menyebabkan rasa tidak tuntas setelah buang air kecil.
Beberapa obat, seperti diuretik, antidepresan, atau penenang, dapat memengaruhi frekuensi dan kemampuan mengontrol buang air kecil.
Kondisi-kondisi ini membuat lansia dengan gangguan buang air kecil perlu mendapatkan perhatian medis untuk memastikan penyebab pastinya dan menentukan langkah penanganan terbaik.
Baca juga: 4 Terapi dan Suplemen untuk Pelumas Sendi bagi Lansia
Tidak semua lansia dengan gangguan buang air kecil mengalami gejala yang sama. Ada yang sering buang air kecil di malam hari, ada juga yang sulit menahan kencing saat batuk atau tertawa.
Ada beberapa jenis yang umum terjadi pada lansia dengan gangguan buang air kecil, antara lain:
Inkontinensia urin adalah kondisi ketika seseorang tidak dapat menahan keluarnya urin. Ini bisa terjadi secara tiba-tiba saat batuk, tertawa, atau bersin.
Frekuensi buang air kecil berlebihan (urgensi). Lansia merasa ingin buang air kecil terus-menerus, bahkan saat kandung kemih belum penuh.
Retensi urin adalah kondisi ketika kandung kemih tidak bisa dikosongkan sepenuhnya, menyebabkan rasa tidak nyaman atau nyeri di bagian bawah perut.
Nocturia (sering buang air kecil di malam hari) di mana lansia dengan gangguan buang air kecil sering terbangun di malam hari untuk buang air kecil, sehingga tidur menjadi tidak nyenyak dan menurunkan stamina.
Mengetahui jenis gangguan yang dialami sangat penting agar Anda bisa membantu lansia mendapatkan penanganan yang sesuai.

Meski tampak sepele, perubahan pola buang air kecil bisa menjadi tanda awal dari masalah kesehatan yang lebih serius.
Jika Anda memiliki orang tua atau anggota keluarga lanjut usia, perhatikan tanda-tanda berikut yang mungkin menunjukkan adanya gangguan pada sistem kemih:
Sering buang air kecil, terutama di malam hari
Rasa nyeri atau terbakar saat buang air kecil
Urin yang keluar hanya sedikit tapi sering
Sulit menahan kencing saat tertawa, batuk, atau berjalan
Perasaan tidak tuntas setelah buang air kecil
Bau urin yang tidak biasa atau berwarna keruh
Gejala-gejala ini bisa menjadi sinyal bahwa lansia dengan gangguan buang air kecil sedang mengalami infeksi saluran kemih atau masalah pada otot dan saraf kandung kemih.
Bagi sebagian orang muda, gangguan buang air kecil mungkin dianggap hal sepele. Namun bagi lansia dengan gangguan buang air kecil, kondisi ini bisa sangat mengganggu aktivitas harian dan kesehatan mental.
Masalah ini bisa menyebabkan rasa malu, menurunkan rasa percaya diri, hingga membuat lansia enggan beraktivitas di luar rumah. Tak jarang, mereka mengalami gangguan tidur karena sering terbangun untuk buang air kecil di malam hari.
Jika tidak diatasi dengan baik, kondisi ini bisa menurunkan kualitas hidup dan memperburuk kesehatan secara keseluruhan.

Menangani lansia dengan gangguan buang air kecil tidak bisa dilakukan dengan cara yang sama untuk semua orang. Setiap lansia memiliki penyebab dan tingkat keparahan yang berbeda, sehingga pendekatannya pun perlu disesuaikan.
Namun, beberapa cara berikut dapat membantu meningkatkan fungsi kandung kemih dan kenyamanan lansia:
Latihan otot panggul (senam Kegel). Latihan ini dapat memperkuat otot di sekitar kandung kemih dan membantu mengontrol buang air kecil. Anda bisa membantu lansia melakukan gerakan ini secara rutin.
Jadwal buang air kecil teratur dengan membuat jadwal buang air kecil setiap 2–3 jam sekali dapat melatih kandung kemih agar tidak terlalu penuh.
Batasi konsumsi kafein dan alkohol karena kafein dan alkohol bersifat diuretik, yang artinya dapat meningkatkan frekuensi buang air kecil. Mengurangi asupan ini akan membantu mengurangi gejala.
Banyak orang salah kaprah dengan mengurangi minum air agar tidak sering buang air kecil. Padahal, kekurangan cairan justru bisa menyebabkan infeksi saluran kemih.
Jika gejala tidak membaik, lansia dengan gangguan buang air kecil perlu menjalani pemeriksaan medis. Dokter dapat memberikan terapi obat, fisioterapi, atau rekomendasi lain yang sesuai dengan kondisi tubuh lansia.
Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati, bukan? Prinsip ini juga berlaku bagi lansia dengan gangguan buang air kecil. Meski penuaan adalah proses alami, Anda tetap bisa membantu lansia mengurangi risikonya dengan membiasakan pola hidup sehat.
Beberapa langkah sederhana berikut dapat membantu mengurangi risiko gangguan kemih pada lansia:
Menjaga berat badan ideal
Mengonsumsi makanan kaya serat dan rendah garam
Menghindari menahan kencing terlalu lama
Rutin berolahraga ringan seperti jalan kaki atau yoga
Melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala
Dengan kebiasaan sehat tersebut, risiko lansia dengan gangguan buang air kecil dapat diminimalkan, dan fungsi tubuh tetap terjaga dengan baik.
Baca juga: Infus Zat Besi: Apa Itu dan Kapan Seseorang Membutuhkannya?
Kadang, tanda-tanda gangguan buang air kecil pada lansia tampak ringan di awal, tapi bisa menjadi serius jika dibiarkan. Bila Anda melihat lansia dengan gangguan buang air kecil yang mulai mengeluh, segera konsultasikan dengan tenaga medis jika lansia mengalami gejala seperti:
Nyeri hebat di perut bagian bawah
Urin bercampur darah
Tidak bisa buang air kecil sama sekali
Kebocoran urin yang parah dan tidak terkendali
Kondisi tersebut memerlukan evaluasi medis segera untuk mencegah komplikasi serius seperti infeksi ginjal atau kerusakan saluran kemih.
Lansia dengan gangguan buang air kecil merupakan kondisi yang umum namun tetap perlu perhatian medis dan dukungan emosional dari keluarga. Dengan memahami penyebab, gejala, dan cara mengatasinya, Anda dapat membantu lansia menjaga kenyamanan dan kualitas hidup mereka.
Jika Anda membutuhkan bantuan profesional untuk menangani lansia dengan gangguan buang air kecil tanpa harus ke rumah sakit, kini ada solusi yang lebih praktis. Homecare Lansia menyediakan layanan panggil dokter ke rumah, infus nutrisi, infus albumin, hingga pemasangan kateter yang dilakukan oleh tenaga medis berpengalaman secara aman dan nyaman.
Jaga kesehatan lansia tercinta mulai hari ini. Hubungi Homecare Lansia sekarang untuk mendapatkan perawatan terbaik langsung di rumah, praktis, profesional, dan penuh kasih sayang.
Tim kami yang terlatih memberikan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi lansia dan keluarga mereka
One thought on “Ketahui Penyebab dan Cara Membantu Lansia dengan Gangguan Buang Air Kecil”