Luka dekubitus pada lansia bukan sekadar luka biasa akibat terlalu lama berbaring. Kondisi ini dapat berkembang menjadi luka yang dalam, sulit sembuh, bahkan memicu infeksi serius apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
Lansia yang memiliki mobilitas terbatas, sedang menjalani masa pemulihan, atau harus berbaring dalam waktu lama merupakan kelompok yang paling berisiko mengalami masalah ini.
Kabar baiknya, luka dekubitus pada lansia sebenarnya dapat dicegah melalui perawatan yang konsisten sejak dini. Dengan memahami penyebab, tanda-tanda awal, hingga langkah penanganannya, Anda dapat membantu menjaga kesehatan kulit sekaligus meningkatkan kenyamanan orang tua atau anggota keluarga yang sedang dirawat di rumah.

Luka dekubitus pada lansia adalah luka yang muncul akibat tekanan terus-menerus pada area tubuh tertentu sehingga aliran darah menuju jaringan kulit menjadi berkurang. Dalam dunia medis, kondisi ini juga dikenal sebagai pressure ulcer, pressure injury, atau luka tekan.
Tekanan yang berlangsung dalam waktu lama menyebabkan jaringan kekurangan oksigen dan nutrisi. Akibatnya, kulit mulai mengalami kerusakan secara bertahap. Apabila tidak segera ditangani, luka dapat semakin dalam hingga mengenai otot maupun tulang.
Area tubuh yang paling sering mengalami luka dekubitus meliputi:
Semakin lama seseorang berada dalam posisi yang sama, semakin besar pula risiko munculnya luka tekan.
Baca juga: Mulai Sering Lupa? Kenali Gejala Demensia Stadium Awal Sejak Dini
Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami berbagai perubahan yang membuat kulit menjadi lebih mudah rusak dibandingkan saat masih muda. Selain itu, banyak lansia memiliki penyakit penyerta yang memperlambat proses penyembuhan luka.
Beberapa alasan mengapa luka dekubitus pada lansia lebih sering terjadi antara lain:
Karena itu, lansia yang hanya duduk atau berbaring sepanjang hari membutuhkan perhatian ekstra agar tekanan pada tubuh tidak berlangsung terlalu lama.

Munculnya luka dekubitus pada lansia tidak terjadi begitu saja. Kondisi ini umumnya diawali oleh tekanan yang berlangsung terlalu lama pada area tubuh tertentu, kemudian diperparah oleh berbagai faktor lain yang memengaruhi kesehatan kulit dan sirkulasi darah.
Penyebab utama luka dekubitus pada lansia adalah tekanan berkepanjangan yang menghambat aliran darah ke kulit. Namun, terdapat beberapa faktor lain yang turut mempercepat kerusakan jaringan.
Seseorang yang tidak mampu mengubah posisi tubuh secara mandiri memiliki risiko paling tinggi mengalami luka tekan. Misalnya, lansia yang sedang menjalani pemulihan setelah operasi atau mengalami kelumpuhan.
Gesekan dapat terjadi ketika tubuh bergeser di atas kasur atau kursi roda. Meskipun tampak ringan, gesekan yang berulang dapat merusak lapisan kulit dan memicu luka.
Shear terjadi ketika kulit tetap menempel pada kasur, tetapi jaringan di bawahnya bergeser. Kondisi ini sering terjadi ketika sandaran tempat tidur dinaikkan terlalu tinggi sehingga tubuh perlahan melorot ke bawah.
Kulit yang sering terkena keringat, urine, atau feses menjadi lebih lunak dan mudah mengalami iritasi. Oleh karena itu, menjaga kebersihan kulit merupakan bagian penting dalam mencegah luka dekubitus.
Tidak semua lansia memiliki risiko yang sama untuk mengalami luka dekubitus. Ada beberapa kondisi yang membuat sebagian orang lebih rentan, mulai dari keterbatasan mobilitas hingga penyakit kronis tertentu.
Selain tekanan pada kulit, terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami luka dekubitus pada lansia.
Lansia yang menggunakan kursi roda atau harus tirah baring memiliki risiko lebih tinggi karena posisi tubuh jarang berubah.
Asupan protein, vitamin, dan mineral yang kurang dapat memperlambat regenerasi jaringan kulit. Akibatnya, kulit lebih mudah rusak dan luka menjadi lebih lama sembuh.
Kulit yang kekurangan cairan cenderung lebih kering, rapuh, dan mudah mengalami kerusakan ketika mendapat tekanan.
Beberapa penyakit dapat menghambat aliran darah maupun penyembuhan luka, seperti:
Sebagian lansia tidak lagi dapat merasakan nyeri atau tekanan dengan baik akibat kerusakan saraf. Akibatnya, mereka tidak menyadari bahwa salah satu bagian tubuh telah mengalami tekanan terlalu lama.
Banyak orang mengira luka tekan hanya berupa kemerahan pada kulit. Padahal, tanpa penanganan yang tepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi luka terbuka yang sulit sembuh.
Beberapa komplikasi yang dapat terjadi meliputi:
Semakin cepat luka dikenali, semakin besar peluang penyembuhan tanpa menimbulkan komplikasi. Oleh karena itu, Anda sebaiknya rutin memeriksa kondisi kulit lansia, terutama pada area tubuh yang sering menerima tekanan.
Luka dekubitus berkembang secara bertahap, sehingga gejalanya pun akan berbeda sesuai tingkat keparahannya. Pada tahap awal, tanda yang muncul mungkin hanya berupa kemerahan pada kulit, tetapi jika dibiarkan, kerusakan dapat meluas hingga mencapai jaringan yang lebih dalam.
Gejala luka dekubitus pada lansia dapat berbeda-beda, tergantung pada tingkat kerusakan jaringan. Mengenali tanda-tandanya sejak awal sangat penting agar penanganan dapat dilakukan sebelum luka semakin parah.
Pada tahap awal, kulit masih utuh, tetapi muncul perubahan warna yang tidak hilang saat ditekan. Pada lansia dengan warna kulit lebih gelap, area tersebut mungkin tampak lebih keunguan atau lebih gelap dibandingkan kulit di sekitarnya.
Selain perubahan warna, Anda juga dapat menemukan beberapa tanda berikut:
Jika ditangani pada tahap ini, luka biasanya dapat membaik tanpa meninggalkan kerusakan yang lebih dalam.
Pada stadium kedua, lapisan kulit bagian luar mulai mengalami kerusakan sehingga muncul luka dangkal atau lepuhan berisi cairan.
Ciri-cirinya meliputi:
Penanganan yang cepat sangat diperlukan agar luka tidak berkembang menjadi lebih serius.
Pada tahap ini, luka sudah menembus lapisan kulit hingga jaringan lemak di bawahnya. Bentuk luka terlihat seperti cekungan yang cukup dalam.
Gejala yang dapat muncul antara lain:
Ini merupakan stadium paling berat. Kerusakan jaringan telah mencapai otot, tendon, bahkan tulang sehingga risiko infeksi menjadi jauh lebih tinggi.
Beberapa tanda yang perlu diwaspadai meliputi:
Pada kondisi ini, penderita membutuhkan penanganan medis sesegera mungkin untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
Penanganan luka dekubitus pada lansia harus disesuaikan dengan tingkat keparahan luka. Semakin dini ditangani, semakin besar peluang penyembuhan dan semakin kecil risiko komplikasi.
Berikut beberapa langkah yang umumnya dilakukan.
Langkah pertama adalah mengurangi tekanan pada bagian tubuh yang mengalami luka.
Anda dapat melakukannya dengan cara:
Luka perlu dibersihkan menggunakan cairan yang dianjurkan oleh tenaga medis. Hindari menggunakan alkohol atau cairan yang dapat menyebabkan iritasi karena justru dapat memperlambat proses penyembuhan.
Setelah dibersihkan, luka biasanya ditutup menggunakan balutan khusus agar tetap lembap dan terlindungi dari bakteri.
Proses penyembuhan luka membutuhkan asupan nutrisi yang cukup, terutama:
Apabila nafsu makan lansia menurun, konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi agar kebutuhan nutrisinya tetap terpenuhi.
Jika luka menunjukkan tanda-tanda infeksi, seperti keluar nanah, berbau, atau disertai demam, dokter dapat memberikan antibiotik maupun tindakan medis lain sesuai kondisi pasien.

Mencegah luka dekubitus jauh lebih mudah dibandingkan mengobatinya, terutama karena proses penyembuhan pada lansia cenderung membutuhkan waktu lebih lama. Kabar baiknya, ada berbagai langkah sederhana yang dapat dilakukan di rumah untuk mengurangi tekanan pada kulit dan menjaga kesehatan jaringan.
Beberapa langkah sederhana berikut dapat membantu mengurangi risiko terjadinya luka dekubitus.
Jangan biarkan lansia berada dalam posisi yang sama terlalu lama. Membantu mereka berganti posisi secara berkala dapat mengurangi tekanan pada area tubuh tertentu.
Kasur antidekubitus dan bantalan khusus mampu membantu mendistribusikan tekanan sehingga kulit tidak terus-menerus menerima beban pada titik yang sama.
Pastikan kulit tetap bersih dan kering, terutama apabila lansia mengalami inkontinensia urine atau feses. Gunakan pelembap bila kulit tampak terlalu kering agar tidak mudah pecah.
Menu harian sebaiknya mengandung protein, sayuran, buah, serta cairan yang cukup untuk membantu menjaga kesehatan kulit dan mempercepat regenerasi jaringan.
Luangkan waktu untuk memeriksa area tubuh yang sering mendapat tekanan, seperti tumit, bokong, pinggul, dan tulang ekor. Apabila muncul kemerahan yang tidak hilang, segera lakukan perubahan posisi dan konsultasikan dengan tenaga medis bila diperlukan.
Baca juga: Bagaimana Cara Merawat Lansia yang Tidak Bisa Berjalan? Ini Panduan Lengkapnya
Meski beberapa kasus luka dekubitus dapat ditangani sejak tahap awal di rumah, ada kondisi tertentu yang memerlukan penanganan medis sesegera mungkin. Mengabaikan tanda-tanda yang muncul justru dapat meningkatkan risiko infeksi dan memperlambat proses penyembuhan.
Segera konsultasikan ke dokter apabila Anda menemukan salah satu kondisi berikut:
Penanganan medis sejak dini dapat membantu mencegah infeksi sekaligus mempercepat proses penyembuhan.
Apabila Anda membutuhkan pendampingan dalam merawat lansia di rumah, Homecare Lansia siap membantu melalui layanan kesehatan yang praktis dan profesional. Mulai dari panggil dokter ke rumah, suntik pelumas sendi, infus vitamin, hingga perawatan intensif oleh tenaga medis berpengalaman, seluruh layanan dirancang untuk membantu lansia memperoleh perawatan yang optimal tanpa harus sering pergi ke fasilitas kesehatan.
Hubungi Homecare Lansia untuk berkonsultasi dan temukan layanan yang paling sesuai dengan kebutuhan orang tercinta.
Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Dimas Widi Anugrah, yang berpengalaman di bidang emergency, pain management, dan geriatri.
Tim kami yang terlatih memberikan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi lansia dan keluarga mereka