Menjaga kesehatan tulang menjadi hal penting seiring bertambahnya usia. Salah satu masalah yang paling sering dialami oleh orang lanjut usia adalah osteoporosis pada lansia. Kondisi ini membuat tulang menjadi rapuh dan mudah patah, bahkan hanya karena benturan ringan atau jatuh kecil.
Bagi Anda yang memiliki orang tua atau keluarga lanjut usia, memahami penyebab, cara mencegah, dan cara menangani osteoporosis sangat penting untuk menjaga kualitas hidup mereka.

Osteoporosis pada lansia adalah kondisi ketika kepadatan dan kekuatan tulang menurun secara signifikan akibat proses penuaan. Tulang yang sehat sebenarnya terus mengalami regenerasi, jaringan lama akan digantikan oleh jaringan baru.
Namun, seiring usia, proses pembentukan jaringan baru melambat, sementara penguraian jaringan lama tetap berlangsung. Akibatnya, tulang menjadi keropos, rapuh, dan lebih mudah patah.
Kondisi ini umumnya menyerang tulang pinggul, pergelangan tangan, dan tulang belakang. Karena tidak menimbulkan gejala awal yang jelas, banyak lansia baru menyadari osteoporosis pada lansia setelah mengalami patah tulang. Itulah mengapa penyakit ini sering disebut sebagai “silent disease”.
Baca juga: Cairan Parenteral adalah Solusi Cepat Mengatasi Dehidrasi, Simak Cara Kerjanya
Mungkin Anda pernah melihat lansia yang tampak bungkuk atau sering mengeluh nyeri tulang belakang. Kondisi tersebut bukan sekadar tanda penuaan biasa, melainkan bisa menjadi gejala osteoporosis pada lansia.
Ada berbagai faktor yang menyebabkan osteoporosis pada lansia, dan sebagian besar berkaitan dengan perubahan alami tubuh akibat proses penuaan. Berikut beberapa penyebab utamanya:
Penurunan hormon estrogen dan testosteron. Setelah menopause, wanita mengalami penurunan kadar hormon estrogen yang berperan penting dalam menjaga kepadatan tulang. Pada pria, penurunan kadar testosteron juga dapat meningkatkan risiko osteoporosis.
Asupan kalsium dan vitamin D yang kurang. Kekurangan kalsium membuat tulang tidak mendapatkan mineral yang cukup untuk mempertahankan kekuatannya. Sedangkan vitamin D diperlukan untuk membantu penyerapan kalsium ke dalam tulang.
Gaya hidup sedentari (minim gerak) mempercepat hilangnya massa tulang. Lansia yang jarang bergerak, berolahraga, atau terlalu lama berbaring akan lebih cepat kehilangan kepadatan tulangnya.
Merokok, konsumsi alkohol berlebihan, dan minum kopi dalam jumlah banyak dapat menghambat penyerapan kalsium serta mempercepat kerusakan tulang.
Penyakit tertentu dan penggunaan obat jangka panjang. Penyakit seperti hipertiroidisme, diabetes, serta penggunaan obat kortikosteroid dalam waktu lama dapat mempercepat proses kerapuhan tulang.
Memahami penyebab di atas membantu Anda untuk lebih waspada terhadap gejala osteoporosis pada lansia dan segera melakukan pencegahan sejak dini.

Pertanyaan ini sering muncul di benak banyak orang, “apakah osteoporosis bisa disembuhkan sepenuhnya?”. Jawabannya, Osteoporosis pada Lansia tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, tetapi kondisinya bisa dikendalikan dan dicegah agar tidak semakin parah.
Dengan perawatan dan gaya hidup yang tepat, lansia dapat tetap beraktivitas normal tanpa risiko patah tulang yang tinggi. Beberapa cara untuk mengendalikan kondisi ini meliputi:
Terapi obat-obatan yang diresepkan dokter untuk memperlambat pengeroposan tulang atau meningkatkan pembentukan jaringan tulang baru.
Suplemen kalsium dan vitamin D untuk memenuhi kebutuhan nutrisi harian.
Fisioterapi atau olahraga ringan yang bertujuan meningkatkan kekuatan otot dan keseimbangan tubuh.
Perubahan gaya hidup sehat, seperti berhenti merokok, mengurangi konsumsi alkohol, dan menjaga berat badan ideal.
Dengan disiplin menjalani pengobatan dan menerapkan gaya hidup sehat, risiko patah tulang akibat osteoporosis pada lansia dapat berkurang secara signifikan.

Menjaga tulang tetap kuat di usia lanjut bukanlah hal yang mustahil. Justru, dengan kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari, osteoporosis pada lansia bisa dicegah sejak dini.
Pencegahan merupakan langkah paling efektif untuk melindungi tulang dari keropos. Berikut beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk mencegah osteoporosis pada lansia.
Pastikan kebutuhan kalsium dan vitamin D terpenuhi setiap hari.
Sumber kalsium: susu, yogurt, keju, ikan teri, tahu, tempe, dan sayuran hijau seperti bayam.
Sumber vitamin D: paparan sinar matahari pagi dan makanan seperti salmon, telur, atau hati sapi.
Kombinasi dua nutrisi ini membantu memperkuat tulang sekaligus meningkatkan daya tahan tubuh.
Olahraga bukan hanya untuk anak muda. Aktivitas fisik ringan seperti jalan kaki, yoga, atau senam lansia bisa meningkatkan kekuatan otot dan kepadatan tulang.
Rutin bergerak juga membantu menjaga keseimbangan tubuh, sehingga mengurangi risiko jatuh, penyebab utama patah tulang pada osteoporosis pada lansia.
Kopi dan alkohol dalam jumlah berlebihan dapat menghambat penyerapan kalsium. Jika Anda terbiasa minum kopi, batasi maksimal dua gelas per hari dan imbangi dengan makanan bergizi.
Nikotin dalam rokok mengganggu proses pembentukan jaringan tulang baru. Dengan berhenti merokok, Anda membantu memperlambat penurunan massa tulang.
Tes kepadatan tulang (bone mineral density test) penting dilakukan, terutama bagi wanita di atas 50 tahun atau pria di atas 65 tahun.
Pemeriksaan ini membantu mendeteksi dini osteoporosis pada lansia, sehingga perawatan bisa segera dilakukan sebelum terjadi kerusakan serius.
Jika seseorang sudah terdiagnosis osteoporosis, ada beberapa cara untuk membantu mengatasi dan memperbaiki kondisi tulangnya. Penanganan osteoporosis pada lansia harus dilakukan secara menyeluruh, melibatkan dokter, ahli gizi, dan keluarga sebagai pendukung utama.
Berikut beberapa cara yang bisa Anda lakukan dalam menangani osteoporosis pada orang tua Anda di rumah.
Langkah pertama adalah memeriksakan diri ke dokter spesialis tulang atau geriatri. Dokter akan menentukan tingkat keparahan dan memberikan rekomendasi terapi, mulai dari obat-obatan hingga suplemen nutrisi.
Fisioterapi membantu menjaga fleksibilitas, kekuatan otot, dan keseimbangan tubuh. Latihan sederhana seperti berdiri dengan satu kaki atau berjalan di tempat bisa mengurangi risiko jatuh.
Asupan protein, kalsium, dan vitamin D harus cukup setiap hari. Hindari diet ekstrem yang bisa menyebabkan kekurangan nutrisi. Anda bisa menambahkan susu tinggi kalsium atau suplemen sesuai anjuran dokter.
Bagi lansia yang kesulitan beraktivitas, perawatan di rumah menjadi pilihan yang nyaman dan aman. Pastikan rumah memiliki pencahayaan cukup, lantai tidak licin, serta pegangan di kamar mandi untuk mencegah jatuh.
Motivasi dan dukungan dari keluarga berperan besar dalam pemulihan osteoporosis pada lansia. Dengan perhatian dan pendampingan, lansia akan lebih semangat menjalani terapi dan mempertahankan gaya hidup sehat.
Baca juga: Infus Nutrisi Parenteral: Apa, Kapan, dan Untuk Siapa?
Kadang, gejala osteoporosis pada lansia tidak terasa hingga terjadi patah tulang. Karena itu, mengenali waktu yang tepat untuk berkonsultasi ke dokter sangat penting.
Segera konsultasikan dengan dokter jika Anda atau anggota keluarga lansia mengalami:
Nyeri punggung yang terus-menerus, terutama di bagian tulang belakang
Penurunan tinggi badan secara tiba-tiba
Postur tubuh membungkuk
Patah tulang akibat jatuh ringan
Penanganan dini dapat mencegah komplikasi serius yang mungkin timbul akibat osteoporosis pada lansia.
Jika Anda memiliki orang tua yang membutuhkan perawatan lebih lanjut atau kesulitan pergi ke rumah sakit, kini Anda tak perlu khawatir. Homecare Lansia hadir memberikan solusi praktis melalui layanan panggil dokter ke rumah, infus nutrisi, infus albumin, hingga injeksi pelumas sendi untuk membantu menjaga kesehatan tulang dan stamina lansia tanpa harus keluar rumah.
Dengan pendampingan medis profesional dan perawatan yang nyaman di rumah, Anda bisa memberikan kualitas hidup terbaik bagi orang tua tercinta. Yuk, hubungi Homecare Lansia sekarang dan wujudkan perawatan hangat penuh perhatian langsung di rumah untuk orang tua Anda.
Tim kami yang terlatih memberikan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi lansia dan keluarga mereka