Ketika berbicara soal kesehatan, terutama bagi Anda yang sudah berkeluarga atau sedang merencanakan keluarga, memahami apa itu vaksin sangatlah penting. Salah satu vaksin yang memiliki peran besar dalam dunia kesehatan adalah vaksin DPT.
Banyak orang sering mendengar namanya saat jadwal imunisasi anak, tetapi tidak sedikit pula yang masih bingung mengenai fungsi, manfaat, dan alasan kenapa vaksin ini wajib diberikan.
Vaksin DPT adalah salah satu bentuk perlindungan dasar tubuh terhadap penyakit berbahaya yang masih bisa mengancam siapa saja, terutama bayi dan anak-anak.
Artikel ini membahas secara lengkap mengenai apa itu vaksin DPT, penyakit apa saja yang dapat dicegah, jadwal pemberiannya, manfaat jangka panjang, hingga pentingnya vaksin ini dalam konteks kesehatan masyarakat.

Sederhananya, vaksin DPT adalah vaksin kombinasi yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari tiga penyakit berbahaya, yaitu Difteri, Pertusis (batuk rejan), dan Tetanus.
Ketiga penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang dapat menimbulkan komplikasi serius, bahkan mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan cepat.
Difteri: infeksi bakteri yang dapat menyebabkan penyumbatan saluran napas, kelumpuhan, hingga gagal jantung.
Pertusis (batuk rejan): penyakit pernapasan yang menyebabkan batuk sangat hebat sampai penderitanya sulit bernapas, makan, atau tidur.
Tetanus: infeksi yang menyebabkan kekakuan otot parah hingga kejang yang sangat menyakitkan.
Bagi Anda yang mengikuti perkembangan isu kesehatan, Anda pasti tahu bahwa kasus difteri dan pertusis masih ditemukan di berbagai daerah. Itulah mengapa vaksin DPT adalah perlindungan yang tidak boleh Anda lewatkan dalam jadwal imunisasi anak.
Baca juga: Tanda-tanda Malnutrisi pada Lansia dan Solusi Pencegahannya
Saat ini, menjaga kesehatan keluarga bukan hanya soal pola makan atau gaya hidup saja, tetapi juga memastikan imunisasi dasar tidak terlewat. Di antara banyaknya vaksin, vaksin DPT menjadi salah satu yang paling krusial.
Ketika tubuh Anda atau anak Anda menerima vaksin ini, sistem imun akan mempelajari cara melawan bakteri penyebab difteri, pertusis, dan tetanus. Dengan kata lain, vaksin DPT adalah cara sederhana namun sangat efektif untuk memberikan pertahanan awal sebelum penyakit itu benar-benar menyerang.
Pentingnya vaksin ini bukan hanya untuk melindungi diri sendiri, tetapi juga untuk menciptakan herd immunity. Semakin banyak orang yang divaksin, semakin kecil kemungkinan penyakit itu menyebar di lingkungan Anda.

Tidak semua vaksin DPT memiliki fungsi yang sama. Ada beberapa jenis dengan komposisi berbeda yang dibuat khusus sesuai kebutuhan usia dan kondisi penerimanya.
Mungkin Anda pernah melihat istilah DPT, DTaP, atau Td. Pada dasarnya, vaksin DPT adalah kelompok vaksin dengan komposisi dan kekuatan berbeda, menyesuaikan usia penerima dan tujuan imunisasi.
Perbedaan ini penting agar Anda tidak salah kaprah saat melihat label pada kartu imunisasi atau mendapatkan rekomendasi dari tenaga medis.

Banyak orang belum menyadari bahwa satu vaksin dapat mencegah tiga penyakit yang dampaknya bisa sangat fatal. Anda mungkin bertanya, “Seberapa besar sih bahaya penyakit yang dicegah vaksin ini?” Jawabannya, sangat besar. Mari kita lihat satu per satu.
Difteri dapat menyebabkan selaput putih tebal pada tenggorokan sehingga penderitanya sulit bernapas. Komplikasinya bisa berujung pada kematian. Itulah mengapa banyak kampanye kesehatan menekankan pentingnya imunisasi, karena vaksin DPT adalah salah satu tameng terbaik melawan difteri.
Batuk rejan sangat berbahaya bagi bayi. Serangan batuknya bisa begitu kuat hingga menyebabkan tulang rusuk patah. Vaksin membantu memutus rantai penularan penyakit ini, terutama di sekolah atau tempat ramai lain.
Tetanus tidak menular antarmanusia, tetapi bakteri penyebabnya bisa masuk melalui luka kotor. Tanpa vaksin, tetanus dapat menyebabkan kejang hebat yang membuat tubuh melengkung dan menyebabkan gangguan pernapasan. Inilah alasan penting kenapa vaksin DPT adalah bagian dari imunisasi dasar.
Vaksinasi tidak bisa diberikan sembarangan. Ada jadwal yang sudah disusun berdasarkan kemampuan sistem imun untuk membentuk perlindungan yang kuat.
WHO dan Ikatan Dokter Anak Indonesia merekomendasikan pemberian vaksin ini dalam beberapa tahap. Jika Anda merupakan orang tua baru atau sedang menyiapkan jadwal imunisasi anak, berikut panduannya:
Usia 2 bulan
Usia 3 bulan
Usia 4 bulan
Booster pada usia 18 bulan
Booster berikutnya pada usia 5–7 tahun
Booster lanjutan (Tdap) untuk remaja dan dewasa
Konsistensi adalah kunci. Dengan mengikuti jadwal ini, Anda membantu memastikan bahwa perlindungan tubuh anak Anda tetap optimal. Bagi orang dewasa, booster tetanus harus diberikan setiap 10 tahun.
Meskipun lebih dikenal sebagai vaksin anak, vaksin DPT ternyata ditujukan untuk berbagai kelompok usia. Secara umum, vaksin DPT adalah vaksin yang wajib bagi semua bayi dan anak-anak.
Namun ada pula kelompok lain yang perlu mendapatkannya:
Remaja yang belum mendapatkan booster Tdap
Ibu hamil, biasanya pada trimester ketiga untuk melindungi bayi sejak dalam kandungan
Orang dewasa yang belum pernah atau tidak lengkap riwayat vaksinnya
Lansia yang sering beraktivitas di luar rumah atau rawan cedera
Kelompok-kelompok ini perlu mendapatkan vaksin karena mereka memiliki risiko lebih tinggi terpapar bakteri penyebab tiga penyakit berbahaya tersebut.
Selain memberikan perlindungan saat ini, vaksin DPT juga berkontribusi besar terhadap kesehatan jangka panjang. Apalagi jika melihat dampak jangka panjangnya, vaksin ini bukan sekadar kebutuhan, tetapi investasi penting untuk kesehatan Anda dan keluarga di masa depan.
Beberapa manfaatnya antara lain:
Mengurangi risiko komplikasi berat seperti gagal napas, radang jantung, hingga kematian.
Mencegah biaya pengobatan yang jauh lebih mahal jika Anda atau keluarga terkena penyakit tersebut.
Menurunkan risiko wabah di lingkungan tempat tinggal Anda.
Memberikan ketenangan pikiran karena tahu bahwa Anda dan keluarga telah terlindungi.
Dalam jangka panjang, manfaat vaksin bahkan bisa dirasakan oleh generasi mendatang ketika penyakit-penyakit ini semakin jarang ditemukan.
Baca juga: 7 Penyakit Kulit pada Lansia yang Paling Sering Terjadi
Seperti vaksin lainnya, vaksin DPT juga dapat menimbulkan efek samping ringan yang biasanya berlangsung singkat. Namun, reaksi ini biasanya cepat hilang dan sangat umum terjadi.
Sebagian orang mungkin mengalami efek samping ringan setelah vaksin, seperti:
Demam
Rasa nyeri di area suntikan
Rewel (pada bayi)
Pembengkakan ringan
Namun Anda tidak perlu takut. Efek-efek ini normal dan akan hilang dalam 1–2 hari. Risiko efek samping jauh lebih kecil dibanding risiko penyakitnya. Itulah mengapa vaksin DPT adalah rekomendasi medis yang tidak boleh Anda lewatkan.
Pada akhirnya, kesehatan bukan hanya soal hari ini, tetapi juga masa depan. Jika Anda membutuhkan layanan kesehatan tambahan, perawatan lanjutan, atau pemeriksaan medis untuk lansia di keluarga Anda, Homecare Lansia siap membantu.
Layanan seperti panggil dokter ke rumah, infus nutrisi, suntik pelumas sendi, pemasangan kateter, hingga pemasangan sonde tersedia untuk memberikan kemudahan, kenyamanan, dan perawatan profesional tanpa harus keluar rumah.
Ingin konsultasi atau mengetahui layanan yang paling sesuai untuk kebutuhan keluarga Anda? Hubungi Homecare Lansia sekarang dan dapatkan bantuan medis yang cepat, nyaman, dan terpercaya.
Tim kami yang terlatih memberikan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi lansia dan keluarga mereka