Kateter urin adalah salah satu alat medis yang umum digunakan dalam praktik klinis. Berbentuk selang kecil yang fleksibel dan lembut, alat ini berfungsi untuk mengalirkan urin dari kandung kemih melewati saluran keluar atau uretra. Tindakan pemasangan kateter urin dapat dilakukan pada pasien laki-laki maupun perempuan, serta pada berbagai jenis usia, dari bayi hingga lansia. Meskipun memiliki manfaat yang signifikan dalam pengelolaan pasien yang membutuhkan bantuan untuk mengeluarkan urin, penggunaan kateter urin juga dapat menimbulkan risiko komplikasi jika tidak dikelola dengan baik dan steril.
Pemasangan kateter urin dilakukan atas indikasi yang jelas, baik sebagai pengobatan maupun sebagai keperluan diagnosis penyakit.
Untuk tujuan pengobatan, kateter urin sering digunakan dalam kondisi:
Untuk keperluan diagnosis penyakit, kateter urin digunakan untuk:
Meskipun bermanfaat, pemasangan kateter urin tidak boleh dilakukan pada kondisi tertentu, karena dapat menimbulkan risiko serius:
Pemasangan kateter urin merupakan tindakan yang invasif dan dapat menimbulkan nyeri atau ketidaknyamanan pada pasien. Oleh karena itu, pasien perlu diberikan penjelasan yang lengkap mengenai prosedur, tujuan, dan risikonya, serta harus menyatakan persetujuan melalui surat persetujuan tindakan medis. Tindakan ini harus dikerjakan dengan hati-hati dan dalam kondisi yang steril untuk meminimalkan risiko komplikasi.
Risiko yang mungkin timbul akibat pemasangan kateter urin meliputi:
Pemilihan ukuran selang kateter yang digunakan disesuaikan terlebih dahulu dengan kondisi anatomis dan usia pasien untuk keselamatan dan kenyamanan optimal. Jenis bahan dasar kateter yang biasanya digunakan ada dua, yaitu berbahan lateks dan silikon. Pemilihan jenis kateter ini disesuaikan dengan indikasi pemasangan kateter urin pada masing-masing pasien (misalnya, silikon untuk penggunaan jangka panjang karena lebih biokompatibel). Kateter ini akan disambungkan ke kantong urin dan ditempelkan ke sisi kaki atau perut agar tidak terlepas dan tetap pada posisinya. Untuk pelepasan kateter urin juga harus dilakukan secara steril oleh tenaga medis yang terlatih dan hanya atas indikasi dari dokter untuk menghindari adanya cedera pada saluran keluar kandung kemih.
Bagi pasien atau keluarga yang merawat pasien dengan kateter urin, menjaga kebersihan adalah kunci utama untuk mencegah komplikasi, terutama infeksi. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:
Pentingnya informasi ini tidak bisa diremehkan karena kateter urin dapat menjadi akses bagi kuman dari luar tubuh masuk ke dalam tubuh, menimbulkan infeksi saluran kemih (ISK) hingga kondisi berat seperti urosepsis (infeksi yang menyebar ke seluruh tubuh).
Apabila terdapat kondisi seperti nyeri pada perut bawah pusar dan saluran keluar kandung kemih, kebocoran pada selang kateter, terdapat darah atau gumpalan darah pada urin, sumbatan hingga menyebabkan nyeri dan sulit buang air kecil, kateter terlepas sendiri, dan disertai demam, disarankan untuk segera konsultasikan ke dokter atau fasilitas kesehatan terdekat untuk diberikan penanganan lebih lanjut. Penanganan cepat dapat mencegah komplikasi yang lebih serius.
Daftar Pustaka:
Oleh dr. Riza Ernaldy
Perawatan medis saat ini tidak harus selalu dilakukan di rumah sakit. Dengan memahami cara panggil dokter ke rumah, Anda bisa memberikan layanan kesehatan yang nyaman, praktis, dan personal untuk orang tua tercinta.
Jika Anda sedang mencari layanan homecare yang profesional, aman, dan terpercaya, Homecare Lansia bisa menjadi solusi terbaik.
Dengan tenaga medis berpengalaman dan pendekatan pelayanan yang ramah bagi lansia, Anda dapat merasa lebih tenang karena kesehatan orang tua berada dalam tangan yang ahli.
Mari wujudkan perawatan yang lebih hangat, lebih nyaman, dan lebih dekat, langsung dari rumah Anda sendiri, bersama Homecare Lansia.
Baca juga:Â Perawatan Lansia di Rumah, Bagaimana Cara Melakukannya dengan Benar?
Tim kami yang terlatih memberikan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi lansia dan keluarga mereka