Sebagai seseorang yang peduli dengan kesehatan lansia, Anda mungkin sering melihat berbagai kondisi medis yang dialami orang tua. Salah satu masalah yang sering luput dari perhatian adalah kekurangan albumin, yaitu kondisi di mana kadar albumin dalam darah menurun di bawah batas normal.
Padahal, albumin memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh serta membantu transportasi nutrisi dan obat-obatan ke seluruh organ.
Mungkin Anda pernah menjumpai seseorang dengan kaki bengkak, tubuh terasa lemas terus-menerus, atau bahkan kesulitan bernapas tanpa sebab yang jelas. Jika iya, bisa jadi itu adalah tanda-tanda kekurangan albumin. Yuk, kenali lebih dalam tentang kondisi ini agar Anda bisa lebih waspada!

Albumin merupakan protein utama dalam plasma darah yang diproduksi oleh hati. Fungsinya antara lain untuk menjaga tekanan osmotik darah, mengangkut zat gizi, hormon, serta berbagai obat yang beredar dalam tubuh.
Ketika kadar albumin turun di bawah 3,5 g/dL, tubuh akan menunjukkan berbagai sinyal gangguan. Kondisi inilah yang disebut kekurangan albumin atau hipoalbuminemia.
Penyebab kekurangan albumin bisa bermacam-macam, mulai dari kurangnya asupan protein, gangguan fungsi hati seperti sirosis, penyakit ginjal seperti sindrom nefrotik, hingga masalah penyerapan nutrisi di usus.
Bila tidak segera ditangani, kondisi ini bisa menimbulkan komplikasi serius dan menurunkan kualitas hidup penderitanya, terutama pada lansia.
Baca juga: Fungsi Albumin pada Lansia, Pentingkah untuk Kesehatan Tubuh?

Setiap orang bisa menunjukkan gejala yang berbeda, tergantung seberapa rendah kadar albuminnya. Namun, berikut beberapa tanda yang paling sering muncul pada penderita kekurangan albumin.
Tubuh yang kekurangan protein akan kesulitan mempertahankan massa otot. Akibatnya, penderita kekurangan albumin sering merasa lemah, cepat lelah, dan sulit beraktivitas. Pada lansia, hal ini bisa membuat mereka lebih rentan jatuh atau kehilangan kemampuan untuk bergerak bebas.
Salah satu tanda paling khas dari kekurangan albumin adalah pembengkakan pada kaki, tangan, atau wajah. Ini terjadi karena albumin berfungsi menjaga cairan tetap berada di dalam pembuluh darah. Jika kadarnya menurun, cairan akan bocor ke jaringan tubuh dan menyebabkan edema.
Pada beberapa kasus, cairan bisa menumpuk di rongga perut hingga membuat perut tampak membesar. Kondisi ini disebut asites dan sering kali menjadi gejala kekurangan albumin akibat gangguan hati seperti sirosis.
Jika cairan berlebih menumpuk di paru-paru (efusi pleura), penderita kekurangan albumin dapat mengalami sesak napas. Ini adalah kondisi yang sangat serius dan membutuhkan penanganan medis segera.

Banyak orang menganggap kekurangan albumin bukan masalah besar, padahal dampaknya bisa meluas ke berbagai sistem tubuh.
Berikut beberapa risiko yang dapat terjadi jika kondisi ini diabaikan:
Luka sulit sembuh: albumin membantu pembentukan jaringan baru. Tanpa cukup albumin, proses regenerasi melambat sehingga luka lebih lama pulih.
Daya tahan tubuh menurun: kekurangan protein berarti tubuh tidak memiliki bahan baku yang cukup untuk membentuk antibodi. Akibatnya, penderita kekurangan albumin lebih rentan terserang infeksi.
Gangguan nutrisi: pada anak-anak, kekurangan albumin bisa menghambat pertumbuhan, sementara pada lansia, kondisi ini memperburuk kelemahan otot dan mempercepat penurunan fungsi organ.
Kabar baiknya, kekurangan albumin bisa diatasi jika diketahui sejak dini dan ditangani dengan benar. Berikut beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk membantu mengembalikan kadar albumin dalam tubuh.
Untuk kasus kekurangan albumin berat, dokter biasanya akan memberikan transfusi albumin intravena agar kadar albumin dalam darah cepat meningkat. Namun, langkah ini hanya dilakukan berdasarkan indikasi medis yang jelas.
Peningkatan asupan protein adalah kunci utama dalam memperbaiki kekurangan albumin. Anda dapat memperbanyak konsumsi makanan seperti:
Ikan gabus (kaya albumin alami)
Telur
Daging tanpa lemak
Susu dan produk olahannya
Pastikan Anda mengonsumsi makanan bergizi seimbang agar fungsi hati dan ginjal tetap optimal dalam memproduksi albumin.
Baca juga: Berapa Biaya Infus Zat Besi Ibu Hamil? Ini Penjelasan dan Manfaatnya
Jika kekurangan albumin disebabkan oleh penyakit ginjal, hati, atau gangguan nutrisi, maka pengobatan utama harus fokus pada penyakit tersebut.
Misalnya, pasien dengan sirosis perlu menjaga pola makan dan menghindari alkohol, sementara penderita sindrom nefrotik perlu menjalani terapi sesuai anjuran dokter.
Untuk kemudahan perawatan, Homecare Lansia siap mendampingi Anda dan keluarga dengan layanan profesional, aman, dan terpercaya. Melalui layanan panggil dokter ke rumah, Anda bisa mendapatkan pemeriksaan langsung tanpa perlu keluar rumah.
Selain itu, tersedia juga layanan infus nutrisi untuk membantu pemenuhan kebutuhan gizi harian dan infus albumin bagi pasien yang mengalami kadar albumin rendah. Semua dilakukan oleh tenaga medis berpengalaman dengan peralatan steril dan pengawasan ketat.
Jangan tunda untuk memberikan perhatian terbaik bagi kesehatan lansia di rumah. Dengan langkah yang tepat dan dukungan dari Homecare Lansia Jakarta, Anda bisa membantu mencegah kekurangan albumin serta menjaga kualitas hidup orang tercinta tetap optimal.
Tim kami yang terlatih memberikan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi lansia dan keluarga mereka
One thought on “Kekurangan Albumin: Gejala, Dampak, dan Cara Mengatasinya”