Kelompok lansia adalah kelompok yang unik dalam hal kesehatan. Proses penuaan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi, namun pola demam pada lansia berbeda dengan demam pada orang dewasa muda. Memahami perbedaan ini penting agar masyarakat dapat membawa lansia ke tenaga kesehatan terdekat dengan cepat jika diperlukan. Kesadaran akan hal ini dapat menjadi penentu dalam kecepatan diagnosis dan penanganan, yang pada akhirnya sangat memengaruhi prognosis kesehatan lansia.
Demam adalah respons tubuh terhadap infeksi yang menyebabkan peningkatan suhu tubuh. Namun, gejala demam sering tidak muncul pada hampir sepertiga lansia yang mengalami infeksi. Ketika gejala ini muncul, biasanya infeksi sudah dalam tahap yang lebih serius. Kondisi ini dikenal sebagai “demam atipikal” pada lansia, di mana tanda-tanda infeksi tidak selalu sejelas pada kelompok usia yang lebih muda. Hal ini membuat deteksi dini infeksi pada lansia menjadi lebih menantang bagi keluarga maupun tenaga medis.
Lansia sehat memiliki suhu badan yang lebih rendah dibandingkan dewasa muda sehat. Oleh karena itu, ketika lansia mengalami infeksi oleh bakteri, virus, atau jamur, demam mungkin tidak terjadi. Proses penuaan menyebabkan penurunan kemampuan tubuh dalam mengatur suhu dan sistem imun. Sinyal tubuh yang seharusnya memberi perintah pada otak untuk meningkatkan suhu dan respons imun tidak lagi berfungsi dengan baik. Selain itu, respons peradangan sistemik yang sering memicu demam pada orang muda juga cenderung tumpul pada lansia. Faktor-faktor ini, ditambah dengan kondisi komorbiditas atau konsumsi obat-obatan tertentu, bisa semakin mengaburkan respons demam yang diharapkan.
Batasan suhu pada lansia yang dianggap demam adalah:
Penting untuk diingat bahwa setiap peningkatan suhu, sekecil apapun, dari suhu dasar lansia yang biasanya lebih rendah, harus diwaspadai. Ketika lansia mengalami demam tinggi, terutama melebihi 38.3∘C, infeksi berat seperti pneumonia atau tuberkulosis harus dicurigai. Demam di atas 38.3∘C pada lansia adalah tanda bahaya serius yang memerlukan perhatian medis segera, bahkan jika gejala lain tidak terlalu menonjol. Kondisi ini bisa menjadi indikator adanya sepsis atau infeksi sistemik yang mengancam jiwa.
Selain infeksi, beberapa kondisi lain yang sering menyebabkan demam pada lansia tetapi jarang pada dewasa muda adalah:
Membedakan penyebab-penybab ini memerlukan pemeriksaan medis yang cermat, karena gejalanya bisa tumpang tindih. Oleh karena itu, observasi yang teliti oleh keluarga dan pelaporannya kepada tenaga kesehatan sangat membantu dalam diagnosis.
Pengetahuan bahwa demam pada lansia memiliki kemungkinan infeksi lebih berat dibandingkan demam pada dewasa muda sangat penting. Ini menekankan pentingnya segera membawa lansia yang mengalami demam ke fasilitas kesehatan terdekat untuk mencari penyebab dan mendapatkan tata laksana yang sesuai secepatnya. Setiap jam keterlambatan dapat memperburuk kondisi lansia, mengingat cadangan fisiologis mereka yang sudah terbatas. Penanganan cepat dapat mencegah komplikasi serius seperti kerusakan organ, gagal organ, atau bahkan kematian. Dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan, termasuk tes darah, urine, atau pencitraan, untuk mengidentifikasi sumber infeksi atau penyebab demam lainnya.
Memahami pola demam pada lansia dan perbedaan dengan dewasa muda adalah kunci dalam memberikan perawatan yang tepat. Lansia dengan demam harus segera diperiksakan ke tenaga kesehatan untuk memastikan penanganan infeksi yang cepat dan efektif. Kesadaran ini bukan hanya tugas tenaga medis, tetapi juga tanggung jawab keluarga dan masyarakat. Dengan deteksi dini dan tindakan yang sigap, kualitas hidup lansia dapat terjaga dan risiko komplikasi serius dapat diminimalisir.
Penyakit refluks gastroesofageal (GERD) adalah salah satu gangguan gastrointestinal yang paling umum pada populasi lanjut usia. Gejalanya pada lansia seringkali tidak khas dan tidak begitu parah, namun risiko terhadap kerusakan lapisan saluran cerna dan komplikasi lebih tinggi. Sekitar sepertiga orang dewasa mengalami gejala klasik mulas (heartburn) atau regurgitasi setidaknya satu kali dalam sebulan; dengan prevalensi yang lebih tinggi, yaitu 59%, pada orang yang berusia di atas 65 tahun. Ini menunjukkan bahwa meskipun lansia mungkin tidak menunjukkan gejala klasik, masalah refluks sangatlah umum di kalangan mereka. Memahami perbedaan presentasi klinis ini sangat penting untuk deteksi dan penanganan yang efektif.
Meskipun tidak ada perbedaan mekanisme yang signifikan antara kelompok usia dalam hal refluks asam, ada beberapa faktor pemicu GERD yang lebih menonjol atau unik pada lansia:
Heartburn yang disebabkan oleh peningkatan asam lambung adalah salah satu gejala utama GERD yang umum dikenal. Namun, pada lansia, gejala sering muncul di daerah mulut, tenggorokan, atau paru-paru (gejala ekstra-esofageal), yang seringkali tidak disadari sebagai GERD:
Gejala-gejala atipikal ini sering kali membuat diagnosis GERD pada lansia menjadi tertunda, karena bisa disalahartikan sebagai kondisi lain.
Segera konsultasikan ke dokter jika terdapat gejala alarm, yang menunjukkan kemungkinan komplikasi serius atau kondisi lain yang lebih berbahaya:
Manajemen GERD pada lansia tidak hanya bergantung pada obat-obatan, tetapi juga perubahan gaya hidup yang signifikan:
Proton pump inhibitor (PPI) masih menjadi pilihan utama dalam farmakoterapi untuk pasien lanjut usia dengan GERD karena efektivitasnya dalam menekan produksi asam lambung. Namun, terdapat beberapa efek samping terkait dengan penggunaan PPI pada populasi lansia, terutama dalam jangka panjang:
Hingga saat ini, belum ada kesepakatan yang mencapai konsensus tentang durasi optimal penggunaan PPI pada orang lanjut usia dengan GERD. Dokter akan mempertimbangkan manfaat versus risiko, seringkali dengan strategi tapering atau penggunaan dosis terendah efektif.
Pengetahuan tentang GERD pada lansia dapat membantu mencegah komplikasi yang serius. Dengan memahami gejala dan faktor pemicunya, kita dapat lebih waspada dan mengambil tindakan yang tepat untuk menjaga kesehatan lansia.
Oleh dr. Riza Ernaldy
Baca juga:Â Lansia Tidak Mau Dibawa ke RS Bagaimana Solusinya? Cara Bijak ini Bisa Anda Coba 2025
Tim kami yang terlatih memberikan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan individu, memberikan kualitas hidup yang lebih baik bagi lansia dan keluarga mereka
One thought on “GERD pada Lansia: Gejala, Penyebab, dan Cara Penanganan”